BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Menurut Departemen Kesehatan RI (1998) Keluarga adalah unit terkecil
dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang
terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan . Sedangkan menurut Salvicion dan Ara Celis (1989) Keluarga
adalah dua atau lebih dari dua individu yang tergabung karena hubungan darah,
hubungan perkawinan atau pengangkatan dan mereka hidupnya dalam suatu
rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masing-masing
dan menciptakan serta mempertahankan suatu kebudayaan
Beberapa fungsi dari keluarga antara lain adalah membina pendewasaan
kepribadian anggota keluarga, Memberikan Identitas anggota keluarga,
Membentuk norma-norma perilaku sesuai dengan tingkat perkembangan anak,
Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga. Keluarga juga merupakan sarana
sosialisasi yang pertama dan utama bagi generasi. Dalam keluarga hubungan anak
dengan orang tua dan anggota keluarga lain dapat dianggap sebagai suatu sistem
atau jaringan bagian- bagian yang berinteraksi. Sistem keluarga ada dalam
perangkat sistem yang lebih besar. Sistem – sistem tersebut berpengaruh pada
anak baik secara langsung maupun tidak, melalui sikap dan cara perawat asuhan
orang tua. Lingkungan tempat tinggal dan subkultur seorang anak mempunyai
pengaruh besar terhadap pengalamannya, pandangannya terhadap penampilan
2
orang lain, kepercayaan dan nilai- nilai serta kebebasan yang diberikan orang tua
(Mussen, 1989).
Semua orang tua memiliki ideal yang implisit maupun eksplisit atas anakanak
mereka- pengetahuan, nilai moral, dan standar perilaku yang bagaimana
yang harus mereka miliki bila dewasa. Orang tua mencoba berbagai macam
strategi untuk mendorong anak mencapai tujuan tersebut. Mereka mengukuhkan
dan menghukum anak, mereka menggunakan diri mereka sendiri sebagai panutan,
mereka menjelaskan kepercayaan dan harapan mereka, dan mereka mencoba
memiliki lingkungan tempat tinggal, teman sebaya dan sekolah yang menunjang
nilai dan pencapaian tujuan mereka (Mussen, 1989). .
Diantara jutaan keluarga yang ada di Indonesia, tardapat salah satu
keluarga yang dapat dikatakan cukup unik. Hal ini dikarenakan keluarga ini telah
mampu melahirkan tiga orang tokoh yang cukup menggemparkan masyarakat
Indonesia. Keluarga tersebut adalah keluarga Bapak Nurhasyim, yang mana beliau
memiliki tiga orang putra yaitu Amrozi, Ali Gufron, dan Ali Imron.
Sebagaimana yang diberitakan oleh media pada tahun 2002 lalu
masyarakat Indonesia dikejutkan oleh pemberitaan tentang meledaknya sebuah
bom di Sari’s Club dan Paddy’s Pub Denpasar Bali. Kejadian ini telah
menewaskan lebih dari 200 orang, yang mana sebagian besar adalah turis asing
yang datang ke Bali. Peristiwa tersebut tidak hanya menggemparkan Indonesia
tetapi juga dunia Internasional (Amrozi, 2008).
Sebelumnya, telah terjadi pula kasus serupa di beberapa tempat strategis di
Indonesia. Kasus peledakan bom bali merupakan salah satu kasus yang
mengawali serentetan kasus pemboman warga sipil di Indonesia sebagai berikut:
3
Bom Kedubes Filipina, Jakarta 2000. 1 Agustus 2000, Bom Kedubes Malaysia,
Jakarta 2000. 27 Agustus 2000, granat meledak di kompleks Kedutaan Besar
Malaysia di Kuningan, Jakarta. Bom Gedung Bursa Efek Jakarta 2000. 13
September 2000, ledakan mengguncang lantai parkir P2 Gedung Bursa Efek
Jakarta. Bom malam Natal 2000. 24 Desember 2000, serangkaian ledakan bom
pada malam Natal di beberapa kota di Indonesia, Bom Plaza Atrium Senen,
Jakarta 2001. 23 September 2001, Bom Restoran KFC, Makassar 2001. 12
Oktober 2001, Sebuah bom lainnya yang dipasang di kantor MLC Life cabang
Makassar tidak meledak.,Bom sekolah Australia, Jakarta 2001. 6 November 2001,
bom rakitan meledak di halaman Australian International School (AIS), Pejaten,
Jakarta. Bom Bali Pertama, Bom malam Tahun Baru 2002. 1 Januari 2002, Granat
manggis meledak di depan rumah makan ayam Bulungan, Jakarta.Di Palu,
Sulawesi Tengah, terjadi empat ledakan bom di berbagai gereja. Tidak ada korban
jiwa. Bom Bali 2002. 12 Oktober 2002, tiga ledakan mengguncang Bali. 202
korban yang mayoritas warga negara Australia tewas dan 300 orang lainnya lukaluka.
Saat bersamaan, di Manado, Sulawesi Utara, bom rakitan juga meledak di
kantor Konjen Filipina. Bom Restoran McDonald’s Makassar 2002. 5 Desember
2002, bom rakitan yang dibungkus wadah pelat baja meledak di restoran
McDonald’s Makassar. Bom JW Marriott 2003. Bom Kompleks Mabes Polri,
Jakarta 2003. 3 Februari 2003, bom rakitan meledak di lobi Wisma Bhayangkari,
Mabes Polri Jakarta. Bom Bandara Cengkareng, Jakarta 2003. 27 April 2003, bom
meledak dii area publik di terminal 2F, bandar udara internasional Soekarno-
Hatta, Cengkareng, Jakarta. Bom JW Marriott 2003. 5 Agustus 2003, bom
menghancurkan sebagian hotel JW Marriott. Bom cafe, Palopo 2004, terjadi pada
4
10 Januari 2004 di Palopo, Bom Kedubes Australia 2004, 9 September 2004,
ledakan besar terjadi di depan Kedutaan Besar Australia. Ledakan bom di Gereja
Immanuel, Palu, Sulawesi Tengah pada 12 Desember 2004. Dua Bom meledak di
Ambon pada 21 Maret 2005 Bom Pamulang, Tangerang 2005, 8 Juni 2005, bom
meledak di halaman rumah Ahli Dewan Pemutus Kebijakan Majelis Mujahidin
Indonesia Abu Jibril alias M Iqbal di Pamulang Barat. Bom Bali 2005, 1 Oktober
2005, bom kembali meledak di Bali. Sekurang-kurangnya 22 orang tewas dan 102
lainnya luka-luka akibat ledakan yang terjadi di R.AJA’s Bar dan Restaurant,
Kuta Square, daerah Pantai Kuta dan di Nyoman Café Jimbaran.Pemboman Palu
2005, 31 Desember 2005, bom meledak di sebuah pasar di Palu, Sulawesi Tengah
yang menewaskan 8 orang dan melukai sedikitnya 45 orang. Bom Jakarta 2009,
17 Juli 2009, dua ledakan dahsyat terjadi di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton,
Jakarta. Ledakan terjadi hampir bersamaan, sekitar pukul 7.00 WIB. Dari seluruh
rentetan kasus tersebut, polisi telah berhasil menangkap orang- orang yang terlibat
dalam kasus- kasus tersebut setelah pencarian yang cukup lama.
Pasca peristiwa operasi peledakan Bom Bali I, banyak pihak yang
bertanya – tanya siapa gerangan pelaku peledakan di Jalan Legian, Kuta- Bali
tersebut sehingga menggemparkan dunia internasional. Ada sebagian diantara
mereka yang berpendapat bahwa peledakan tersebut dilakukan oleh oknum aparat
keamanan sendiri, dalam hal ini adalah tentara dan kepolisian. Ada juga yang
mengatakan bahwa pelakunya adalah intelejen sendiri. Bahkan tidak sedikit yang
meyakini bahwa peledakan tersebut melibatkan negara asing yakni israel, hal ini
didasarkan pada penelitian yang menyatakan bahwa bahan- bahan yang digunakan
untuk peledakan adalah sejenis mikro nuklir, sementara yang mampu
5
memproduksi mikro nuklir hanyalah negara Israel saja (Amrozi, 2008).
Semua pendapat dan teori tersebut akhirnya terbantahkan ketika polisi
telah berhasil menangkap Amrozi pada tanggal 5 November 2002 sebagai salah
satu tersangka pelaku peledakan tersebut. Kembali masyarakat pun dibuat gempar
dengan pemberitaan tersebut. Seakan tidak percaya, bagaimana mungkin seorang
anak desa yang tidak pernah kuliah di jurusan kimia mampu membuat bom yang
efek ledakannya begitu dahsyat. Sampai kemudian pengadilan negeri
mengesahkan mereka sebagai pelaku peledakan bom di Bali tanggal 12 Oktober
2002. Sejak saat itu seluruh perhatian media terarah pada sosok beliau dan temantemannya
(Amrozi, 2008).
Menurut pengakuan yang ditulis oleh Amrozi dalam autobiografinya,
kejadian tersebut memang di prakarsai oleh beberapa orang, diantaranya amrozi
bin nurhasyim, Ali Gufron bin Nurhasyim, dan Ali Imron bin Nurhasyim yang
tidak lain adalah satu saudara. Diantara ketiga bersaudara itu sosok Amrozi dan
Ali Gufron lah yang banyak menarik perhatian sebagian besar media. Mereka
memiliki karakter yang berani, keras- utamanya Amrozi, namun juga seringkali
bersikap santun, ramah, dan memiliki pergaulan yang luas. Dengan karakter yang
demikian ini menjadi sesuatu yang mengejutkan ketika mereka mampu
mengambil keputusan besar untuk melakukan aksi peledakan di Bali. Bahkan
tanpa diikuti penyesalan, sebagaimana yang beliau tunjukkan dalam persidangan
(Amrozi, 2008).
Amrozi dan dua orang saudaranya yang lain merupakan laki- laki yang
berasal dari Desa Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur. Amrozi sendiri lahir pada
tahun 1963 dari pasangan Bapak Nurhasim dan Ibu Tariyem. Bapak Nurhasyim
6
adalah seorang yang taat dalam beragama, mulai dari masalah yang kecil hingga
masalah yang besar. Beliau sangat menekankan kepada anak- anaknya dalam
masalah ibadah. Selain itu beliau juga menekankan kepada anak- anaknya untuk
senantiasa menyambung tali silaturahmi. Bapak Nurhasyim juga sering bercerita
kepada Amrozi tentang perjuangan beliau melawan kaum penjajah Belanda untuk
membela kemerdekaan. Beliau juga mencita- citakan tegaknya syari’at islam di
Indonesia. Dalam beragama Bapak Nurhasyim sangat tegas terhadap segala
bentuk syirik, takhayul, bid’ah, dan khurafat. Sedangkan ibu adalah sosok yang
memiliki jiwa sosial yang tinggi. Meski berasal dari keluarga yang
berpengetahuan agama biasa saja, Ibu Tariyem adalah sosok yang dikenal sabar
dalam mendidik anak- anaknya.
Sebagai bagian dari anggota keluarga seharusnya watak dan kepribadian
seorang amrozi tidak lepas dari pengaruh perawat asuhan dalam keluarga.
Keluarga memberikan pengalaman- pengalaman awal pada diri anak yang akan
berpengaruh pada anak baik secara langsung maupun tidak, melalui sikap dan cara
perawat asuhan orang tua.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti merasa perlu untuk melakukan
kajian dalam hal pola perilaku atau pola asuh orang tua yang dilakukan oleh
keluarga ketiga pelaku peledakan bom Bali I ini untuk mengetahui apakah pola
perilaku orang tua terhadap anak memberikan pengaruh terhadap perilaku
peledakan yang dilakukan oleh ketiga tokoh tersebut. Oleh karena itu peneliti
mengambil judul “Pola Asuh pada Keluarga Terpidana Peledakan Bom Bali
I”.
7
B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti mengemukakan rumusan
masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pola asuh orang tua yang diterapkan dalam keluarga ketiga
Pelaku Peledakan Bom Bali I?
2. Apakah Pola asuh orang tua memberikan kontribusi terhadap perilaku
peledakan bom Bali I?
3. Aspek apakah yang mendorong terjadinya perilaku peledakan Bom Bali?
C. TUJUAN PENELITI
Dengan mengacu pada latar belakang masalah dan rumusan masalah yang
dikemukakan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan dan
menganalisis:
1. Pola asuh orang tua pada keluarga ketiga tokoh pelaku peledakan Bom
Bali I.
2. Ada atau tidaknya kontribusi pola asuh orang tua terhadap perilaku
peledakan Bom Bali
3. Aspek- aspek yang mendukung perilaku peledakan bom bali
D. MANFAAT PENELITIAN
1. Bagi Bidang Psikologi Klinis
a. Memperluas khasanah pengetahuan mengenai fenomena perilaku
terorisme di Indonesia.
b. Membantu memahami penerapan teori- teori psikologi kepribadian dan
8
motivasi perilaku dalam menganalisa fenomena terorisme yang terjadi
di masyarakat.
c. Memahami dinamika psikologis yang melatarbelakangi perilaku
peledakan.
2. Bagi Bidang Psikologi Sosial
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan teori maupun
data mengenai peranan keluarga dalam menunjang berbagai perilaku
anggota keluarga, khususnya anak baik secara langsung maupun tidak
langsung.
3. Bagi masyarakat umum
a. Memberikan pengetahuan yang seimbang kepada masyarakat tentang
latar belakang perilaku peledakan bom bali sehingga menumbuhkan
penilaian yang objektif terhadap kasus terorisme.
b. Memberikan tambahan wawasan , gambaran dan pemahaman kepada
orang tua tentang peranan pola asuh terhadap pembentukan pribadi
anak.
semangat selalu












0 komentar:
Posting Komentar
Bagi yang ingin mengkopi halaman ini mohon mencantumkan alamat ini"http://teknologiandme.blogspot.com". Karya anak bangsa...terimakasih!!!