Belajar Islam dengan Teknologi Menyenangkan

Tentramkan Jiwa dengan Berzikir kepada Allah SWT


“Tidaklah kalian mengetahui bahwa hati hamba-hamba Allah SWT yang beriman itu dibahagiakan oleh Allah dengan banyak berzikir kepada-Nya”(QS.Al-Hadid:16)
Standar dzikir yang diharapkan adalah tidak hanya sekedar gerakan lisan namun memiliki bekas dan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu pula memberkan ketenangan dan ketentraman jiwa. Karena itu, semakin kuat imn seseorang maka akan semakin banyak pula dzikir kepada Allah SWT.
Dzikir kepada Allah juga menjadi alat hamba yang beriman untuk menghapus dosa-dosanya sebagaimana janji Allah SWT dalam Al-Qur’an:”Allah mempersiapkan pengampunan dosa dan ganjaran yang mulia bagi kaum muslimin dan muslimat yang berzikir.”(QS.Al-Ahzab:35)
Sebagimana dzikir kepada Allah SWT merupakan sarana untuk menerangi pikran dan mental guna mencapai taraf kesadaran ketuhanan yang Maha Tinggi. Lebih jauh lagi dzikir juga akan membawa ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan hidup sebagai firman-Nya:”Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentran dengan dzikrullah. Ingatlah hanya dengan dzikir maka hati akan menjadi tentram.”(QS.Ar-Ra’ad:28)
Pentingnya berdzikir juga diungkapkan dalam sebuah hadist Nabi saw yang diriwayatkan oleh Abu Darda Nabi saw besabda:”Maukah aku beritahukan sebaik-baik amal dan lebih tinggi derajatnya dan lebih bersih di sisi Raja (Allah) kalian,dan sebaik-baik pemberian daripada emas dan uang, dan sebaik-baik kalian dari bertemu musuh lalu kalian memenggal leher mereka atau kalian yang terpenggal, mereka berkata: mau, nabi bersabda: Dzikir kepada Allah SWT”.(Bukhari Muslim)
Begitu pula enga berdzikir dapat membangkitkan selera ibadah serta menuju akhlaq yang mulia. Karena dzikir selain mererupakan pekerjaan hati dengan selalu menginagat Allah SWT setiap saat dan dalam semua kondisi. Nmun juga selalu merupakan kerja lisan, kerja aqli, dan kerja jasadi. (dakwatuna)
Idealnay dzikir itu berangkat dari kekuatan hati,ditangkap oleh akal dan dibuktikan dengan taqwa, amal nyata di dunia.karena itu praktek dzikir tidak terbatas pada satu kondisi dan tempat tertentu, kapan dan dimana saja dilakukan bahkan dalam kondisi hadats juga boleh dilakukan , baik dalam keadaan berdiri,duduk dan bebaring. Semoga kita selau dimudahkan menginagt Allah. Amien..

Pengabdian dan kesungguhan

Pengabdian dan kesungguhan
       Dokter ibarat oase, ia merupakan sosok yang sangat dikagumi. Hadir sebagai penyelamat kehidupan dan kehadirannya memang sangat dibutuhkan bagi sebagian bahkan seluruh masyarakat. Dalam perkembangannya, dokter menjadi salah satu profesi yang pasti sangat menjanjikan. Hal itu disebabkan oleh perkembangan zaman yang semakin kompleks. Seperti yang kita ketahui, dari zaman dahulu hingga kini, penyakit hadir dengan berbagai threats yang juga semakin berkembang. Kehidupan modern adalah penyebab utama berkembangnya berbagai macam penyakit. Seperti pola makan yang tidak teratur, konsumsi gula yang berlebihan, penggunaan MSG dalam masakan, konsumsi makanan cepat saji dan lainya.
      Dari situlah muncul minat yang luar biasa bagi seorang siswa SMA bahkan siswa SD untuk bercita-cita menjadi dokter. Image dokter yang sangat lekat dengan kekayaan dan hidup yang mapan, status social yang ‘wah’ di masyarakat, telah menjadi suatu alas an yang paling sering ditarakan para calon mahasiswa. Padahal seperti yang kita ketahui, untuk menjadi dokter bukanlah perkara yang mudah dan tidak sembarangan orang bisa mewujudkan mimpinya menjadi dokter.
Kehidupan yang bergantung pada globalisasi sebagai barometernya telah menjadi kehidupan yang serba bertemakan materi. Materi menjadi suatu yang patut dan wajib untuk diperoleh. Akhirnya semua hanya diitung berdasarkan materi dan lama-kelamaan hidup akn menjadi ajang bagi manusia yang berusaha dan berlomba-lomba memamerkan kekayaan materi yang ia miliki. Hal itu pulalah yang menjadi momok di dunia kesehatan, khususnya bagi para prktisi kesehatan. Dokter, perawat, bidan dan lainnya tidak akan pernah luput dari ancaman paham materialisme. Islam memandang bahwa harta lekat dengan urusan duniawi. Karena sifatnya yang sementara dan tak kekal akan hilang seiring dengan akhirnya kehidupan fana. Seorang dokter yang dianggap sebagai praktisi kesehatan tertinggi merupakan seseorang yang benar-benar sangat dekat dengan pahala. Dan hal itu adalah suatu garansi yang memang telah Allah berikan untuk para praktisi kesehatan.
      

Artikel : MEMAHAMI ASWAJA H.Abdurrahman Navis, Lc. MHI*

I. Definisi dan Historis
   
      ASWAJA  adalah kepanjangan kata dari “ Ahlussunnah waljamaah”. Ahlussunnah berarti orang-orang yang menganut atau mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW, dan  waljamaah berarti mayoritas umat atau mayoritas sahabat Nabi Muhammad SAW. Jadi definisi Ahlussunnah waljamaah yaitu; “ Orang-orang yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan mayoritas sahabat ( maa ana alaihi wa ashhabi ), baik di dalam syariat (hukum Islam) maupun akidah dan tasawuf”.
    Istilah ahlussunnah waljamaah tidak dikenal di zaman Nabi Muhammad SAW maupun di masa pemerintahan al-khulafa’ al-rasyidin, bahkan tidak dikenal di zaman pemerintahan Bani Umayah ( 41 – 133 H. / 611 – 750 M. ). Istilah ini untuk pertama kalinya di pakai pada masa pemerintahan khalifah Abu Ja’far al-Manshur (137-159H./754-775M) dan khalifah Harun Al-Rasyid (170-194H/785-809M), keduanya dari dinasti Abbasiyah (750-1258). Istilah ahlussunnah waljamaah semakin tampak ke permukaan pada zaman pemerintahan khalifah al-Ma’mun (198-218H/813-833M).
    Pada zamannya, al-Ma’mun menjadikan Muktazilah ( aliran yang mendasarkan ajaran Islam pada al-Qur’an dan akal) sebagai madzhab resmi negara, dan ia memaksa para pejabat dan tokoh-tokoh agama agar mengikuti faham ini, terutama yang berkaitan denga kemakhlukan al-qur’an. untuk itu, ia melakukan mihnah (inquisition), yaitu ujian akidah  terhadap para pejabat dan ulama. Materi pokok yang di ujikan adalah masalah al-quran. Bagi muktazilah,  al-quran adalah makhluk (diciptakan oleh Allah SWT), tidak qadim (  ada sejak awal dari segala permulaan), sebab tidak ada yang qadim selain Allah SWT. Orang yang berpendapat bahwa al-quran itu qadim berarti syirik dan syirik merupakan dosa besar yang tak terampuni. Untuk membebaskan manusia dari syirik,  al-Ma’mun melakukan mihnah. Ada beberapa ulama yang terkena mihnah dari al-Ma’mun, diantaranya, Imam Ahmad Ibn Hanbal ( 164-241H).
    Penggunaan istilah ahlussunnah waljamaah semakin popular setelah munculnya Abu Hasan Al-Asy’ari (260-324H/873-935M) dan Abu Manshur Al-Maturidi (w. 944 M), yang melahirkan aliran “Al-Asy’aryah dan Al-Maturidyah” di bidang teologi. Sebagai ‘perlawanan’ terhadap aliran muktazilah yang menjadi aliran resmi pemerintah waktu itu. Teori Asy’ariyah  lebih mendahulukan  naql ( teks qu’an hadits)  daripada aql ( penalaran rasional). Dengan demikian bila dikatakan ahlussunnah waljamaah pada waktu itu, maka yang dimaksudkan adalah penganut paham asy’ariyah atau al-Maturidyah dibidang teologi. Dalam hubungan ini ahlussunnah waljamaah dibedakan dari Muktazilah, Qadariyah, Syiah, Khawarij,  dan aliran-aliran lain. Dari aliran ahlussunnah waljamaah atau disebut aliran sunni dibidang teologi kemudian juga berkembang dalam bidang lain yang menjadi cirri khas aliran ini, baik dibidang  fiqh dan tasawuf. sehingga menjadi istilah, jika disebut  akidah sunni  (ahlussunnah waljamaah) yang dimaksud adalah pengikut Asy’aryah dan Maturidyah. Atau Fiqh Sunni,  yaitu pengikut madzhab yang empat ( Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali). Yang menggunakan rujukan alqur’an, al-hadits, ijma’ dan qiyas. Atau juga   Tasawuf Sunni,  yang dimaksud adalah pengikut metode tasawuf Abu Qashim Abdul Karim al-Qusyairi, Imam Al-Hawi, Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid al-Baghdadi. Yang memadukan antara syari’at, hakikat dan makrifaat.
 
II. Memahami Hadits Firqah

     Ada beberapa riwayat hadits tentang firqah atau millah ( golongan atau aliran) yang kemudian dijadikan landasan bagi firqah ahlussunnah waljamaah. Sedikitnya ada 6 riwayat hadits tentang firqah/millah yang semuanya sanadnya dapat dijadikan hujjah karena tidak ada yang dloif tetapi hadits shahih dan hasan. Dari hadits yang kesimpulannya menjelaskan bahwa umat Rasulullah akan menjadi 73 firqah, semua di neraka kecuali satu  yang di surga. itulah yang disebut firqah yang selamat الفرقة الناجية)). Dari beberpa riwayat itu ada yang secara tegas menyebutkan;   ( أهل الســنة والجمــاعة“) ahlussunnah waljamaah”. ataub “aljamaah”.   (الجماعة Tetapi yang paling banyak dengan kalimat;  “ maa ana alaihi wa ashhabi”  (( ماأنا عليه وأصحا . baiklah penulis  kutipkan sebagian hadits tentang firqah atau millah:.
        عن عبد الله بن عمرو قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " لبأتين على أمتي ما أتى على بني اســــرائيل حذو النعل بالنعل حتى ان كان منهم من بأتي أمه علانية لكان في أمتي من يصنع ذالك , وان بني اســـرائيل تفرقت على ثنتين وســبعين ملة, وتفترق أمتي على ثلاث وســبعين ملة كلهم فى النار الا واحدة قالوا ومن هي يا رسول الله  ؟ قال : " مـــا أنا عليه  وأصـــحابي". ( الترمذي و الآجري واللا لكائي وغيرهم. حـــسن بشــواهد كثيرة )

Artinya: Dari Abillah Bin ‘Amr berkata, Rasulullah SAW bersabda: “ Akan datang kepada umatku sebagaimana yang terjadi kepada Bani Israil.  Mereka meniru  perilakuan seseorang dengan sepadannya, walaupun diantara mereka ada yang menggauli ibunya terang-terangan niscaya akan ada diantara umatku yang melakukan seperti mereka. Sesungguhnya bani Israil berkelompok menjadi 72 golongan. Dan umatku akan berkelompok menjadi 73 golongan, semua di neraka kecuali satu. Sahabat bertanya; siapa mereka itu Rasulullah? Rasulullah menjawab: “ Apa yang  ada padaku  dan sahabat-sahabatku “ ( HR. At-Tirmidzi, Al-Ajiri, Al-lalkai. Hadits hasan )    
 
        عن أنس بن مــالك قال : قال رســول الله صــلى الله عليه وســلم : " ان بني اســرائيل افترقت على احدى وســبعين فرقة , وان أمتي ستفترق على ثنــتين وسبعين فرقــة كلها في النار الا واحدة, وهي الجمــاعة " ( ابن ماجه وأحمد واللا لكائي وغيرهم. هذا اســـناد جيد )

Artinysa:  Dari Anas bin Malik berkata, rasulullah SAW bersabda; “ Sesungguhnya bani Israil akan berkelompok menjadi 71 golongan dan sesungguhnya  umatku akan berkelompok menjadi 72 golongan, semua di neraka kecuali 1 yaitu al-jamaah”.      ( HR.Ibn Majah, Ahmad, al-lakai dan lain. Hadits sanad baik )
 
   

Halaman Iklan