Menghabiskan waktu dikamar berhari-hari tanpa mandi dan gosok gigi. Membenamkan wajah di dalm bantal hingga berlinang air mata berliter-liter menangisi cinta yang terlarang. Atau meratapi perpisahan yang memang tak diharapkan. Sudahlah jngan cengeng dan tetapklah hidup ke depan. Manusia tidak diciptakan untuk kalah tatapi memenngkan setiap pertempuran hati yang menghajatkan penuh pengorbanan. Berhentilah sejenak dan cobalah berpikir. Di posisi seperti apa hatimu sekarang. Apakah cinta Allah lebih kamu utamakan, atau kamu menukarnya dengan cinta terhadap keasihmu itu, yang tidak mendatangakan apapun kecuali kegelisahan. Gelisah jika tak berjumpa, gelisah inggin tau kabarnya, gelisah karena kamu telah diputus olehnya.
Tetaplah jelita dengan cinta yang ada di dada. Jagalah Allah dan segena cinta-Nya di hatimu yang terdalam. Nikmatilah kebersamaanmu dalam semaian keharuan yang begitu dalam. Berbahagialah karena cinta yang membuangmu justru mengantarmu ke cinta yang berkah untukmu. Mencintai Allah Ta’ala dengan segenap cinta yang engkau miliki. Kini dan hingga nanti.
Hidup itu ada tangis dan ada tawa. Kalau kini kamu harus menagis maka itu adalh jalan yang harus engkau tempuh. Air mata mu terlalu lama engkau simpan, ada saatnya iaharus tumpah dan membsahi pipimu yang tembem itu. Ada kalanya kesedihan harus menghampiri hidupmu, agar seimbang, agar bisa berjalan denga proposional.
Silahkan berduka untuk cinta pada manusia tetapi sebentar saja. Jangan benamkan hati pada kepedihan berkali-kali. Kini engkau diputus, dan besok mungki hari yang menguntungkan buat kamu. Tetaplah berlalan dan jangan menengok lagi.
Sodiq,burhan. 2009. Ketika cinta harus memilih. Solo; gazza media. Hal. 83
Seorang mukmin bukanlah pengumpat dan yang suka mengutuk, yang keji dan yang ucapanya kotor. (HR. Bukhari)
semangat selalu











