Belajar Islam dengan Teknologi Menyenangkan

KEIKHLASAN

Jangan cengeng
Menghabiskan waktu dikamar berhari-hari tanpa mandi dan gosok gigi. Membenamkan wajah di dalm bantal hingga berlinang air mata berliter-liter menangisi cinta yang terlarang. Atau meratapi perpisahan yang memang tak diharapkan. Sudahlah jngan cengeng dan tetapklah hidup ke depan. Manusia tidak diciptakan untuk kalah tatapi memenngkan setiap pertempuran hati yang menghajatkan penuh pengorbanan. Berhentilah sejenak dan cobalah berpikir. Di posisi seperti apa hatimu sekarang. Apakah cinta Allah lebih kamu utamakan, atau kamu menukarnya dengan cinta terhadap keasihmu itu, yang tidak mendatangakan apapun kecuali kegelisahan. Gelisah jika tak berjumpa, gelisah inggin tau kabarnya, gelisah karena kamu telah diputus olehnya.
Tetaplah jelita dengan cinta yang ada di dada. Jagalah Allah dan segena cinta-Nya di hatimu yang terdalam. Nikmatilah kebersamaanmu dalam semaian keharuan yang begitu dalam.  Berbahagialah karena cinta yang membuangmu justru mengantarmu ke cinta yang berkah untukmu. Mencintai Allah Ta’ala dengan segenap cinta yang engkau miliki. Kini dan hingga nanti.
Hidup itu ada tangis dan ada tawa. Kalau kini kamu harus menagis maka itu adalh jalan yang harus engkau tempuh. Air mata mu terlalu lama engkau simpan, ada saatnya iaharus tumpah dan membsahi pipimu yang tembem itu. Ada kalanya kesedihan harus menghampiri hidupmu, agar seimbang, agar bisa berjalan denga proposional.
Silahkan berduka untuk cinta pada manusia tetapi sebentar saja. Jangan benamkan hati pada kepedihan berkali-kali. Kini engkau diputus, dan besok mungki hari yang menguntungkan buat kamu. Tetaplah berlalan dan jangan menengok lagi.
Sodiq,burhan.  2009. Ketika cinta harus memilih. Solo; gazza media. Hal. 83 

ORANG TUA YANG BIJAK

SI MERAH MINIKU SAYANG TELAH PERGI
Eka Apriliya. s

Beberapa tahun silam kira-kira enam tahun yang lalu. Tepatnya pada waktu aku kelas 2 SMP. Pada suatu pagi yang cerah aku terbangun dari tidur. Dengan perasaan senang aku berangkat ke sekolah untuk mengikuti ekstrakulikuler pramuka. Ku kayuh sepedahku yang baru empat bulan aku miliki. Sepedah warna merah yang setia menemaniku pergi menuntut ilmu. Aku dibelikan sepedah baru karena sepedahku yang dulu telah rusak karena sudah turun temurun dari saudara-saudaraku. Aku sangat senang karena itu merupakan sepedah baru pertamaku.
Pagi itu bertepatan pada hari minggu. Sehingga tidak begitu ramai anak-anak pergi ke sekolah. Saat berangkat aku diajak sama teman lewat jalan yang berbeda dari jalur yang biasa kita lewati meskipun dalam hatiku tidak setuju tapi tetap aku ikuti. Tidak lama kemudian hatiku merasa tidak tenang serasa ada firasat buruk yang akan terjadi. Tetapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi itu.
Sesampainya di sekolah aku parkir sepedah ku di tempat yang bisa aku tempati. Aku letakkan sepedah mini meraku di dekat sepedah teman ku. Yang tidak kalah bagunya dengan punya ku. Begitu senang karena kami akan berkemah beberapa hari lagi hingga aku lupa akan rasa tidak enak hatiku itu. Aku serasa lupa dan otakku tidak berisi lagi. Tetapi aku mersakan langkah kakiku yang berat meninggalkan tempat parkir tersebut.
Tidak lama kemudian saat acara ekstra pramuka dimulai semua siswa asyik sendiri sehingga tidak memperhatikan keadaan sekitarnya. Begitu juga denganku. Kami sibuk mempersiapkan diri untuk pergi berkemah karena tinggal beberapa hari lagi. Begitu sibuknya hingga aku tidak menghiraukan bahkan tidak mendengar panggilan temanku. Temanku menghampiriku dan berkata,”Eh…tadi apa kakakmu datang kesini bawa sepedah kamu?”.
Dengan santaninya aku jawa,” Tidak.. kenapa?”.
Jawab temanku,”Oh… tidak apa-apa”.

Halaman Iklan