Belajar Islam dengan Teknologi Menyenangkan

ORANG TUA YANG BIJAK

SI MERAH MINIKU SAYANG TELAH PERGI
Eka Apriliya. s

Beberapa tahun silam kira-kira enam tahun yang lalu. Tepatnya pada waktu aku kelas 2 SMP. Pada suatu pagi yang cerah aku terbangun dari tidur. Dengan perasaan senang aku berangkat ke sekolah untuk mengikuti ekstrakulikuler pramuka. Ku kayuh sepedahku yang baru empat bulan aku miliki. Sepedah warna merah yang setia menemaniku pergi menuntut ilmu. Aku dibelikan sepedah baru karena sepedahku yang dulu telah rusak karena sudah turun temurun dari saudara-saudaraku. Aku sangat senang karena itu merupakan sepedah baru pertamaku.
Pagi itu bertepatan pada hari minggu. Sehingga tidak begitu ramai anak-anak pergi ke sekolah. Saat berangkat aku diajak sama teman lewat jalan yang berbeda dari jalur yang biasa kita lewati meskipun dalam hatiku tidak setuju tapi tetap aku ikuti. Tidak lama kemudian hatiku merasa tidak tenang serasa ada firasat buruk yang akan terjadi. Tetapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi itu.
Sesampainya di sekolah aku parkir sepedah ku di tempat yang bisa aku tempati. Aku letakkan sepedah mini meraku di dekat sepedah teman ku. Yang tidak kalah bagunya dengan punya ku. Begitu senang karena kami akan berkemah beberapa hari lagi hingga aku lupa akan rasa tidak enak hatiku itu. Aku serasa lupa dan otakku tidak berisi lagi. Tetapi aku mersakan langkah kakiku yang berat meninggalkan tempat parkir tersebut.
Tidak lama kemudian saat acara ekstra pramuka dimulai semua siswa asyik sendiri sehingga tidak memperhatikan keadaan sekitarnya. Begitu juga denganku. Kami sibuk mempersiapkan diri untuk pergi berkemah karena tinggal beberapa hari lagi. Begitu sibuknya hingga aku tidak menghiraukan bahkan tidak mendengar panggilan temanku. Temanku menghampiriku dan berkata,”Eh…tadi apa kakakmu datang kesini bawa sepedah kamu?”.
Dengan santaninya aku jawa,” Tidak.. kenapa?”.
Jawab temanku,”Oh… tidak apa-apa”.



Melihat wajanya dia merasa agak heran tetapi tidak menjelaskan apapun padaku. Setelah beberapa saat kemudian acara pun selesai. Kami semua besiap-siap untuk pulang. Aku merasa ada sesuatu yang aneh dan mengganjal dihatiku tetapi aku tidak tahu apa itu penyebabnya. Aku pun bergegas pergi menuju parkiran tempat ku meletakkan sepedahku tadi. Sungguh tidak terduga yang membuat ku terkejut sepedah yang ku parker di dekat sepedah temanku tidak ada. Tetapi aku tidak menyerah dan terus mencari di sepanjang parkiran dengan hati yang dag…dig… dug… tidak karuan. Setelah lama ku cari ternyata tetap tidak ketemu. Akhirnya kami putuskan bahwa sepedah kesayanganku yang baru dibelikan oleh orang tua ku hilang. Aku pun semakin putus asa dan tidak kuat lagi menahan kesedihan ini. Akupun menangis lemas karena sok. Aku pun beristifar,”Astagfirullah hal azim….berkali-kali”. Untuk menenagan hatiku tetapi tidak kunjung tenag juga.
Pembimbingku pramuka pun yang rumahnya lumayan dekat denganku menawariku untuk diantarkan pulang. Namun sebelumnya aku diajak pergi ke kantor polisi yang tidak jauh dari sekolahku untuk melaporkan kejadian tersebut. Sesampainya dirumah ku tidak sanggup menceritakan kejadian tersebut kepada orang tua ku. Kata pembimbingku kepada orang tua ku kalau ini bukan kejadian pertama kali di sekolahku itu. Aku merasa bersalah dan terus menangis karena aku tahu aku juga bersalah telah lupa tidak mengunci sepedahnya. Padahal tiap hari biasanya aku tidak lupa untuk menguncinya tetapi kenapa hari itu aku benar-benar lupa. Serasa di hipnotis hingga lupa segalanya.
Dalam hatiku hanya bisa bertanya, “Ya Robb apa ini memang sudah takdir-Mu?”.
Tangisku tidak berhenti sampai aku kecapekan dan tertidur. Setelah ku terbangun orang tuaku menghampiriku di kamar. Tanpa aku duga orang tua ku berkata padaku,”Sudah tidak usah ditangisi mungkin itu bukan rejeki kamu, nanti kalau punya rejeki lebih kita beli lagi yang baru”.
” Nanti Allah akan memberikan yang lebih bagus lagi’, kata bapakku.
Subhanallah sungguh orang tua yang bijak. Padalah aku pikir aku akan dimarahi habis-habisan. Huff… aku takut sekali. Ternyata tidak!!!
Hari bergnti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun tetapi aku tetap saja tidak bisa melupakan kejdian itu. Rasa bersalah dan kecerobohanku yang membuatku semakin menyesal. Aku tidak dapat melupakn kejadian itu juga karena aku bersyukur punya orang tua yang bijak dan selalu yakin akan takdir-Nya. Aku pun sekarang akan lebih berhati-hati dan tidak meremehkan firasat hatiku yang tidak enak karena hal itu sering menjadi petunjuk dari-Nya akan hadirnya sesuatu yang aku pun belum tahu.

0 komentar:

Posting Komentar

Bagi yang ingin mengkopi halaman ini mohon mencantumkan alamat ini"http://teknologiandme.blogspot.com". Karya anak bangsa...terimakasih!!!

Halaman Iklan